Wednesday, January 16, 2013

Resensi Novel Wuthering Heights

Judul buku : Wuthering Heights
Penulis : Emily Brontë (1847)
Penerjemah : Lulu Wijaya
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama, April 2011
Tebal buku : 488 halaman

Aku tak bisa mengungkapkannya, tapi pasti kau dan semua orang punya perasaan bahwa ada, atau seharusnya ada, keberadaan di luar tubuhmu sendiri. Apa gunanya penciptaanku, kalau seluruh diriku terkurung di sini? Segala kesengsaraan besarku di dunia ini selama ini adalah kesengsaraan Heatchcliff, dan aku melihat dan merasakan setiap kesengsaraan itu sejak awal; pemikiran besarku dalam hidup adalah dirinya. Kalau segala hal lain musnah, dan dia tetap ada, aku akan tetap ada; dan kalau segala hal lain tetap ada dan dia dibinasakan, semesta ini akan menjadi asing bagiku; aku takkan merasa menjadi bagian darinya.
Cintaku kepada Linton seperti dedaunan di hutan: waktu akan mengubahnya, aku sadar sekali itu, sebagaimana musim dingin mengubah pepohonan. Cintaku kepada Heatchliff menyerupai karang-karang abadi di bawah, sumber dari sedikit saja kesenangan yang terlihat, tapi perlu.
Nelly, akulah Heatchliff. Dia selalu, selalu ada dalam pikiranku bukan sebagai kesenangan, seperti aku selalu tidak menyenangkanbagi diriku sendiri. Tetapi sebagai keberadaanku sendiri.

Sinopsis:
Kisah cinta antara Heathcliff dan Catherine Earnshaw dalam Wuthering Heights menambah daftar panjang kisah tragedi antara dua manusia yang berbeda, dalam hal ini mereka berbeda status sosial. Heathcliff dan Catherine Earnshaw adalah sepasang kekasih yang harus mengalami kenyataan pahit karena cinta mereka tidak bisa bersatu. Asal usul Heathcliff yang tidak jelas membuatnya tidak bisa menikah dengan Catherine, yang seorang keturunan bangsawan Inggris. Heathcliff sendiri tak punya nama keluarga. Ia hanyalah Heathcliff, yang ditemukan oleh ayah Cathrine, yang kemudian merasa kasihan kepada anak itu dan membawanya pulang untuk kemudian diasuh bersama kedua anaknya, Hindley dan Catherine. Hidup Heathcliff yang laksana di surga ketika Mr. Earnshaw, ayah Cathy masih hidup, langsung dihempaskan ke neraka begitu ayah angkatnya itu meninggal dunia. Hindley, kakak Cathy, yang begitu membenci Heathcliff karena dianggapnya telah merebut kasih sayang ayahnya dari dirinya, memperlakukan Heathcliff layaknya pembantu yang paling rendah. Sejak saat itu, Heathcliff berubah menjadi seorang anak yang tertutup, temperamental, sulit diatur, kasar, dan sederet hal buruk lainnya. Ia hanya menunjukkan sisi lain dari dirinya kepada Cathy, yang begitu dicintainya.... Hingga pada suatu hari, Heathcliff tidak sengaja mendengar Cathy berbicara dengan pengasuh mereka sejak kecil, Nelly. Heathcliff mendengar ketika Cathy memutuskan untuk menerima lamaran Edgar Linton, seorang pemuda bangsawan terhormat. Cathy yang begitu muda dan naif tidak siap kehilangan status dan segala macam kemudahan yang ia terima sebagai seorang putri keluarga bangsawan, jika ia memilih Heathcliff sebagai pendamping hidupnya. Ia sempat menyatakan betapa dalam cintanya kepada Heathcliff kepada Nelly. Namun sayangnya, Heathcliff tidak mendengar bagian itu. Heathcliff yang merasa begitu kecewa dan terluka, akhirnya kabur dari rumah itu. Beberapa tahun kemudian Heathcliff kembali. Cathy, yang begitu dicintainya, telah menjadi Mrs. Linton sekarang. Heathcliff yang kembali dari pengembaraannya itu memiliki begitu banyak uang, yang tidak seorang pun tahu dari mana didapatnya uang itu. Dengan kekayaannya saat ini, ia berniat untuk membalas dendam kepada keluarga Earnshaw dan Linton yang telah menghancurkan hidupnya, dan membawa pergi Cathy yang begitu dicintainya.

Review: 
Pada halaman pertama buku Wuthering Heights yang diterjemahkan oleh GPU, ada bagian “Tentang Penulis”, yaitu tentang Emily Bronte.
“Dia [Emily Bronte] mencurahkan pikiran-pikiran rahasia dari jiwanya yang tersiksa ke dalam Wuthering Heights (1847), buku yang mengangkat namanya menjadi tokoh besar dalam kesusastraan Inggris.”
Wuthering Heights adalah sebuah novel klasik Inggris yang ditulis oleh Emily Brontë di tahun 1847. Familiar dengan nama Brontë? Kalau ya, itu wajar saja. Karena ia adalah saudara kandung Charlotte Emily Brontë, penulis novel Jane Eyre yang terkenal itu. Emily Brontë menulis kisah yang tidak biasa di masa itu. Ketika itu, pernikahan berbeda status sosial masih merupakan hal yang tabu. Apalagi dalam kondisi ini, Catherine-lah yang status sosialnya lebih tinggi dibanding Heathcliff, yang bukan saja adalah seorang anak buangan, tetapi juga tidak memiliki nama keluarga, dan memiliki postur tubuh yang agak berbeda dengan orang Inggris pada umumnya. Ciri-ciri tubuhnya menunjukkan bahwa ada kemungkinan besar ia adalah keturunan gipsi, yang dianggap sebagai masyarakat kelas bawah ketika itu. Novel ini begitu kelam, dan kisah kasih tak sampai antara Catherine dan Heathcliff begitu menyesakkan dada. Bagian tentang balas dendam Heathcliff ke kedua keluarga itu pun begitu hebat. Ia memang berniat untuk menghancurkan dua keluarga itu hingga ke keturunan mereka, karena rasa sakit hatinya yang begitu mendalam. 
Novel ini ditulis dengan gaya yang saya kira umum ditulis ketika zaman itu, yaitu dengan gaya bercerita orang ketiga di luar cerita. Dalam arti, ada seorang saksi hidup yang bercerita pada orang lain tentang kehidupan sang tokoh utama. Dalam beberapa kisah klasik, gaya bercerita semacam ini sebenarnya oke-oke saja buat saya. Tapi dalam Wuthering Heights ini, saya tidak begitu menyukainya. Karena sang saksi hidup yang bercerita ini terlalu sok tahu menurut pandangan saya. Dan sosok ini bukanlah sosok yang objektif, jadinya perasaan Heathcliff dan Catherine tak terlalu diekspos dengan baik. Secara keseluruhan, saya novel ini sangat menarik untuk dibaca. Terutama untuk para pecinta novel romance dengan gaya klasik. Meskipun demikian, di tengah-tengah cerita saya sempat bosan dengan gaya berceritanya dan menskimming beberapa bagiannya. Saya juga merasakan gaya menterjemahkan novel ini agak kaku dan sedikit terlalu harfiah. Mungkin hal itu disebabkan karena ini adalah novel klasik, dan bahasa Inggris di kala itu mungkin lebih sulit dicari padanan katanya dibandingkan dengan bahasa Inggris modern. Saya sendiri berpendapat bahwa karya semacam ini mungkin akan lebih baik dibaca langsung dengan bahasa aslinya, supaya perasaannya lebih tersampaikan.

No response to “Resensi Novel Wuthering Heights”

Leave a Reply